Senin, 08 Maret 2010

ISTRI SOLEHAH TAK BENCI POLIGAMI

Apakah yang sangat dibenci oleh para istri kepada poligami? Hal ini perlu dijawab supaya kita dapat menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan poligami dengan izin Allah. Bagi istri yang menunggu kedatangan madu, apa yang sangat ditakuti adalah:

  1. Kasih sayang suami dengan keinginan suami akan tertumpu hanya pada istri baru atau istri yang mendatang (istri kedua, ketiga atau keempat) sehingga ia akan terbiar dan tidak dipedulikan.

  2. Madunya lebih dari dirinya dan akan menjadi saingannya dalam semua hal, terutama dalam hal berebut kasih sayang suami.

  3. Bila tiba giliran madunya dia akan diganggu oleh bayangan-bayangan asmara yang dilakukan oleh suaminya dengan madunya itu. Hal itulah yang sangat dicemburui dan dicurigai oleh para istri yang menjadi sebab utama mereka takut pada poligami. Mereka dapat hilang bahagia karena ini.

  4. Jiwa menderita karena selalu diganggu oleh sangkaan-sangkaan buruk pada madu juga pada suami. Disangkanya suaminya lebihkan madunya, suaminya tidak sayang kepadanya. Disangkanya madunya mau berlomba-lomba dengannya. Madunya tidak berimbang rasa padanya. Tidak menjaga hatinya. Akibatnya timbullah rasa marah pada suami, dengki pada madu malah buruk sangka dan benci padanya. Maka antara dia dan madu tidak bisa berjumpa, bertegur sap apalagi bermesra. Padahal mereka sebenarnya adalah satu keluarga.

  5. Bimbang dan cemburu bila memikirkan madunya akan mendapat anak hasil perkawinan dengan suaminya.

  6. Takut kalau-kalau suaminya lebihkan harta benda, uang, rumah, pakaian, perabot dan lain-lain pada madunya.

  7. Takut kalau-kalau suaminya akan membawa madunya berjalan-jalan dan meninggalkannya.

Itulah perkara-perkara yang sangat ditakuti oleh para istri. Perasaan mereka tersiksa karena hal-hal itu. Dan itulah juga yang mereka perebutkan.

Jawaban dari Ketakutan itu

  1. Jangan tanya kasih sayang suami pada kita, tapi tanyalah diri, sudahkah kita memberikan kasih sayang yang sebaik-baiknya kepada suami. Sebab jika seorang istri sudah melayani suami sebaik-baiknya, tidak ada alasan bagi suami untuk mengabaikannya. Tapi seandainya pengabaian itu terjadi juga, itu adalah ujian dari Allah. Atas ujian itu seorang mukminah akan tetap bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya. Apabila seorang laki-laki, memutuskan untuk menikah lagi, bukan berarti kasih sayangnya pada istrinya sudah tidak ada sama sekali. Sebab untuk menyayangi seseorang, kita tidak harus memutuskan kasih sayang yang sudah kita beri pada seseorang yang lain. Kalau begitulah halnya, tentu kita tidak dapat menyayangi lebih dari seseorang dalam dunia ini. Tapi dalam kenyataannya, kita kini sedang menyayangi banyak orang, artinya manusia itu mampu untuk memberi kasih sayang pada beberapa banyak orang. Ini juga bermakna, suami masih dapat sayang pada istrinya walaupun dia akan menikah lagi. Oleh karena itu tidak timbul persoalan, kasih sayangnya akan rusak karena poligami. Tapi kalau hal itu terjadi, ini bukan salah poligami tetapi salah si istri itu karena ulah dan tindakannya yang buruk membuat suami hilang sayang padanya. Oleh karena itu janganlah bertanya mengenai kasih suami kepada kita, tapi tanyalah pada diri, sudahkan kita berkelakuan baik sehingga dapat membuat suami kasih pada kita.

  2. Seandainya datang madu yang lebih hebat dari kita, mengertilah bahwa itu peluang untuk melatih sifat tawadhu. Kesombongan kita selama ini terkikis dengan sendirinya. Tapi ketahuilah bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna. Ada keistimewaan dan ada pula kekurangan. Lihatlah keistimewaan yang Allah karuniakan kepada kita, karena di situlah letaknya pintu syukur yang masih terbuka bagi kita. Istimewanya istri tua ialah ia sudah lama mengecap nikmat bersama suami. Sudah punya anak-anak penghibur hati. Sudah cukup bermesra dan berpengalaman dengan suami dan keluarga suami, sudah berjasa kepada suami, dan sudah dapat banyak mendapat pemberian dari suami. Itulah yang harus disyukurkan kepada Allah. Jangan kufur nikmat, jangan tamak, dan jangan pikir dunia saja, akhirat lebih utama dan lebih dahsyat. Istri muda pula bertaraf adik. Adik, walau bagaimana istimewa sekalipun, wajib memuliakan kakaknya. Adiknya yang gagal menghibur kakaknya, akan dipandang rendah dan jahat oleh masyarakat. Atas segala ketentuan Allah, sholatnya tidak diterima oleh Allah. Dia terhina dunia akhirat.

  3. Pada waktu suami memadu cinta dengan istrinya yang lain, kesempatan itu sangat baik untuk kita "memadu" cinta dengan Allah SWT. Mengapa terlalu mencemaskan suami? Padahal cinta Allah lebih penting, sedangkan kita belum memperolehnya. Kenikmatan mencintai Allah jauh lebih hebat daripada nikmat mencintai suami. Wanita itu mukminah melihat suami sebagai pemberian atau hadiah dari Allah untuknya. Maka dia mau menjadikan pernikahannya untuk dan karena Allah. Untuk mendapatkan derajat istri sholehah. Untuk mendapatkan pahala keredhoan suami kepadanya, dan seterusnya untuk mendapatkan keredhoan Allah.


Juga berharap untuk mendapatkan anak-anak sholeh dan sholehah, yang menghiburnya di dunia, dibarjah dan diakhirat, Insya Allah. Dengan tujuan pernikahan yang begitu, seorang mukminah tidak berpikir untuk control suami, apalagi untuk menyusahkan suami atau berperang dengan suami. Sebab istri solehah senantiasa meng-utamakan kehendak suami daripada kehendak sendiri. Seandainya suami mau menikah lagi sifatnnya ialah sam'an wa ta'atan (dengar dan patuh). Yang penting baginya adalah keredhoan suami dan keredhoan Allah SWT.

Barakallohulii walakum


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar