Jumat, 26 Maret 2010

Manisnya MADU

Saya sempat terheran mendengar judul tulisan "Manisnya Madu". Setelah tamat dibaca dari buku yg ditulis oleh isteri kedua Ustad Ashaarii Muhammad, Ustadzah Khadizah Aam. Trus aku pun terkagum pada sosok wanita Saintis, Ahli Pesawat Terbang namun pengamalannya terhadap Islam sungguh luar biasa. Bagaimana tidak luar biasa wanita yg Doktoral lulusan luar negeri, pasti intelektualitasnya tinggi. Namun beliau sangat rendah hati dihadapan syariat Alloh SWT.

Mudah-mudahan makin bertambahlah wanita-wanita seperti Dr. Ir. Eng. Gina Puspita, seperti yg kutuliskan kembali buah pikirnya ini.

Ketika tekhnologi dirgantara Indonesia masih bersinar terang di bawah institusi bernama IPTN, ada satu nama yang paling sering disebut dan dipuji B.J. Habibie, yakni Dr. Ing. Gina Puspita. Itu karena perempuan asal Bogor, Jawa Barat ini merupakan satu-satunya perempuan ahli struktur pesawat terbang yang dimiliki Indonesia kala itu.

Dr. Ing. Gina Puspita adalah salah satu muslimah lulusan terbaik dari Jerman. Citranya sebagai ahli struktur pesawat terbang makin berkilau tatkala ia menikah dengan Dr. Ing. Abdurrahman R. Effendi, juga ahli pesawat lulusan Jerman. Sebelumnya, Gina tercatat sebagai pelajar Indonesia pertama yang lulus dari universiti kejuruteraan pesawat terulung dunia, Ecole National Superieure de l'Aeronautique et de l'Espace (Ensae), di Toulouse, Perancis. Jauh sebelum ia dikenal sebagai ahli pesawat, ketika masih kuliah di ITB, Gina sudah dikenal sebagai aktifis dakwah kampus.

Sayang, politik di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini tidak mendukung perkembangan industri pesawat terbang nasional yang berada di Bandung itu. Akibatnya, ratusan ahli-ahli pesawat yang dimiliki negeri ini hengkang ke luar negeri. Mereka kini tersebar dan menjadi orang-orang penting di berbagai industri pesawat kelas dunia, seperti Boing, Fokker, Airbus dan lain-lain.

Tak terkecuali, Gina dan suaminya. Mereka kini lebih aktif di Malaysia. Di negeri jiran ini, seperti yang pernah diakuinya, Gina dan suami tetap rajin "kutak-katik" pesawat. "Tapi pesawat yang kami buat sangat besar dibandingkan pesawat di IPTN selama ini," tutur Gina, suatu saat.

Pesawat apa itu? "Kami bersama teman-teman di Rufaqa, berikhtiar membuat "pesawat terbang" yang penumpangnya umat manusia di dunia. Bersama pimpinan kami, Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi, sejak 1997 digelar aktivitas perniagaan berdasarkan syariat Islam," ujar Gina seperti yang pernah ditulis berbagai media tahun lalu.

Kini, belum sampai 10 tahun, syarikat Rufaqa telah berkembang meliputi perniagaan, pendidikan, teknologi, penerbitan, media, percetakan, supermarket, dan sebagainya. Dewasa ini bisnis Rufaqa sudah beroperasi di lebih dari 20 negara, dinataranya di Perancis, Jepang, Arab Saudi, Uzbekistan dan banyak negara lagi.

Di Indonesia, Rufaqa merintis sebuah komunitas di kawasan Bukit Sentul sejak awal tahun 2004. Meski masih berjumlah puluhan rumah atau keluarga, namun di sini sebuah kekuatan ekonomi sosial sedang menggeliat. Contoh saja, di cluster Victoria, ada dua blok ruko yang mereka tempati. Di sini sedang beroperasi toko kelontong, rumah makan, penerbitan dan vidio. Sedangkan usaha-usaha lainnya masih dalam tahap memulai.

Dalam komunitas Rufaqa, semua berjalan wajar dan biasa-biasa saja. Mungkin hanya geliat ekonomi yang boleh dikatakan anomali bagi sebuah organisasi sosial Islam di Asia Tenggara. Yang unik, mungkin, hampir semua pemimpin dan jamaah Rufaqa mengamalkan poligami.

Poligami -seperti yang ditulis suami Gina, Dr. Ing. Abdurrahman R. Effendi- tak sekadar jalan keluar bagi laki-laki dan penyelamat wanita. Juga menjadi satu cara mendidik para pejuang, pemimpin, dan wanita menuju takwa. Poligami juga adalah salah satu cara membangun kebesaran Islam.

Dr. Ing. Gina Puspita sendiri hidup bersama tiga madunya, yakni; Basiroh, Salwa dan Fatimah. Lalu, bagaimana pandangan para Dr. Ing Gina soal poligami? Berikut rangkuman penuturannya.

Oleh karena tidak sanggup berpoligami, baik karena lemah iman (bagi wanita) atau takut istri, ada yang berani dan berusaha menghalang poligami. Berbagai macam hujah dan dalil diciptakan untuk memperkecilkan poligami. Bencinya mereka pada poligami melebihi kebencian pada pelacuran dan perzinaan atau hidup kumpul kebo yang umum dalam masyarakat. Lalu, mereka berjuang menghalangi poligami tapi tidak berbuat demikian pada pelacuran dan perzinaan.

Tambah dahsyat halnya dengan perempuan yang tidak peduli dengan suami. Pagi-pagi sama-sama keluar bekerja, pulang sama-sama letih dan sama-sama berkelompok. Kelompok yang bercorak women's lib yang dasarnya perempuan diajak menjadi seperti laki-laki. Mereka sanggup mengabaikan suami. Siang ada rapat, malampun ada rapat. Ke sana ke mari tanpa ijin kepada suami.

Bila disebut poligami, golongan perempuan yang beginilah yang sangat menentangngnya, paling keras bahkan ke tahap mau membuat undang-undang untuk menghalangi poligami. Mereka selalu bersembunyi dibalik alasan-alasan seperti kasih sayang tercemar, kekerasan terhadap perempuan, anak-anak terlantar atau ketidakadilan dan sebagainya.
Mereka tidak berpikir kalau suami memerlukan layanannya. Sehingga suami merasa kekosongan dalam hidupnya. Kalau suami itu kepala kantor, perempuan di kantor lebih pandai mengambil hatinya daripada istri di rumah. Dalam keadaan itu bila suami minta menikah lagi dia tidak ijinkan. Dengan alasan dia tidak mau kasihnya terbagi. Padahal sudah lama kasih suaminya terbagi, akibat perbuatan dirinya.

Poligami Karena Allah

Seorang istri yang menghalangi suami menikah, padahal suaminya mampi, adalah istri egois, karena terlalu banyak melayani cinta nafsu. Sebab, bila suami sudah ada hati untuk menikah lagi, bermakna suaminya sudah ada keinginan pada perempuan lain selain dirinya. Seandainya keinginan itu tidak terpenuhi, dihalangi oleh istri, suami itu sudah mulai liar dan tawar hati dengan istrinya. Dirasanya istrinya tidak paham jiwanya, tidak membantu menyelesaikan masalahnya. Jika hal ini terjadi, hubungan suami istri mulai cacat sedikit demi sedikit.

Seandainya istri memahami, malah mendorong hasratnya, maka cintanya akan bertambah. Kepercayaan¬-nya, kasih sayang dan rasa terhutang budi akan melimpah ruah pada istrinya. Dan sekurang-kurangnya dia berjanji pada dirinya, "Aku tidak akan sia-siakan pengorbanan istriku."

Apa yang dicemaskan? Kasih yang terbagi, dan malam yang terpaksa digilirkan? Tanpa poligami pun belum tentu suami kita mengasihi kita seratus persen. Dan tidak ada jaminan yang setiap malam adalah "malam pengantin" antara kita dengannya.

Takut kekurangan harta atau ekonomi rumah tangga berantakan? Atau cemas diri tidak dipedulikan? Apa jaminan bahwa tanpa poligami kita kaya, dan akan selalu dimanjakan? Berapa banyak orang yang tidak berpoligami pun kocar-kacir rumah tangganya, selalu berpisah, papa, dan terbiar. Malah orang yang berpoligami, hidup mereka kaya dan bahagia. Malah secara kasar, menurut laporan pengadilan agama, kebanyakan masalah cerai adalah diantara suami istri yang monogami.

Allah membenarkan poligami, dan suami kita suka sekali, tapi nafsu kita sangat membencinya. Artinya kita berada dalam satu medan perang yang sengit. Kita hendak menjinakkan nafsu kita agar menerima sesuatu yang dirasa sungguh pahit. Bagaimana?
Mula-mula kita pahamkan diri kita bahwa Allah tidak bermaksud menyiksa wanita dengan membenarkan poligami. Allah punya maksud baik dan penting untuk keselamatan hidup kita di dunia dan akhirat. Tapi ingat, kehendak Allah itu sangat bertentangan dengan kehendak nafsu kita.

Nafsu kita sangat cinta pada dunia, sedangkan Allah menyuruh kita cinta pada akhirat. Nafsu ingin agar suami itu milik kita seorang sedangkan Allah mau kita cinta kepada-Nya dan cukup dengan Dia saja. Sebab akhirat itu jauh lebih baik dan lebih indah daripada dunia, dan Allah itu jauh lebih hebat daripada suami kita.
Dunia yang kita buru bukan menunggu, tapi semakin lari dari kita. Suami yang kita cintai mau tambah lagi satu istri atau mungkin lebih. Rumah yang kita sayangi kian usang, tiba waktunya akan musnah. Pakaian yang kita sukai kian lusuh dan koyak. Anak-anak yang kita kasihi kian membesar dan kian jauh dari kita. Apa pun isi dunia yang kita rindui dan kita idam-idamkan semuanya akan tinggalkan atau ia akan meninggalkan kita. Semuanya kian rusak dan binasa.

Kita cinta dunia tapi dunia tidak cinta pada kita. Kita buru dunia tapi dunia tidak buru kita bahkan dunia tipu kita. Darso Arief Bakuama

Barakallohulii walakum
salam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar